Hal yang Harus diperhatikan dalam Teknik Pencucian Luka Akut dan Kronis

Oleh: Dr. Adam Astrada, Ns., MHS., CNS

Tujuan dari pencucian luka adalah:

  1. Membersihkan luka dari debri atau kontaminan, seperti pasir, sisa-sisa dedaunan, balutan lama, dan objek makroskopis lain
  2. Mengurangi bioburden atau jumlah kuman yang tumbuh pada area jaringan dasar luka dan kulit sekelilingnya
  3. Mengoreksi atau memperbaiki lingkungan mikro luka dengan membuang protease berlebih dan toksin lain yang dihasilkan mikroorganisme oportunistik
  4. Memberikan lingkungan moist (lembab) yang dapat mendukung granulasi (daging tumbuh)

Pencucian luka harus menyeluruh dan mampu mencapai seluruh rongga luka agar tidak ada jaringan luka yang menjadi “sarang” kuman. Beberapa aspek pencucian luka yang harus menjadi pertimbangan adalah:

  1. Jenis cairan. Baiknya dengan normal saline sepanjang pembersihan, atau aling tidak air steril/distilasi yang kemudian diakhiri dengan normal saline.
  2. Jenis agen antiseptik. Termasuk sabun, povidone iodine, peroksida, rivanol, PHMB, dsb. Pemilihan agen antiseptik harus mempertimbangkan: jenis luka (infektif, akut, atau kronik) dan jaringan dasar luka, frekuensi penggunaan, konsentrasi agen aktif (harus efektif membuang kuman namun toksisitas terhadap jaringan luka harus minimal). Beberapa agen antiseptik sudah tidak lagi direkomendasikan karena sifatnya lebih merugikan bagi jaringan luka, termasuklah peroksida, rivanol, dan jenis PHMB dengan konsentrasi >0.1%. Saya pribadi masih sangat merekomendasikan povidone iodine untuk luka infektif dan kronik, namun dengan konsentrasi lebih rendah dari sediaan yang ada di pasaran (sediaan pasaran: 10%), karena sangat membantu mengurangi produksi pus/nanah dan mempercepat proses penutupan kocek/pocket/rongga luka.
  3. Volume, durasi, dan tekanan irigasi. Jaringan berongga yang sulit diakses dengan jari dan alat debridement harus mendapatkan perhatian lebih, yakni cairan yang dialirkan harus lebih banyak, lebih lama, dan dengan tekanan.
  4. Pemisahan area cuci, urutan, dan arah mecuci. Pisahkan kasa yang digunakan untuk “menggosok” jaringan luka dan jaringan periwound (kulit sekitar luka). Bersihkan area luka sebelum berpindah ke periwound. Hal ini untuk memastikan tidak ada kontamiasi lanjut ke jaringan luka. Prinsep aseptik.
  5. Massaging. Pastikan area pocket dan jaringan sekitar luka bebas dari pus dengan cara “mengurut-urut” dengan lembut area tersebut. Pastikan cairan irigasi terakhir yang keluat berwarna bening.
  6. Penggunaan agen antiseptik tambahan atau antimikroba lain. Saya lakukan ini sebagai tambahan untuk luka infektif dengan rongga yang luas atau area-area yang berisiko tinggi (sendi atau dekat pembuluh darah dan saraf mayor).

Pencucian luka yang tidak benar dan tidak adekuat akan menyebabkan infeksi berulang, luka stagnan, nyeri, dan penyembuhan yang lama. Teknik pencucian luka yang baik dan benar akan nampak saat mengganti balutan di 2 – 3 hari berikutnya: warna balutan tidak hijau, bau luka tidak busuk, cairan luka tidak merembes banyak.

Sumber : klik di sini

Post a Comment

0 Comments