Mengenal Rumus Cara Menghitung Keseimbangan Cairan dan Jenis Cairan Infus Parenteral

Ilustrasi | pixabay.com

Memantau keseimbangan cairan perlu dilakukan kepada pasien oleh petugas kesehatan baik perawat atau bidan yang sedang berjaga. Hal tersebut dilakukan agar perawat atau bidan dapat mengetahui apakah pasien mengalami dehidrasi atau tidak. Normalnya, pasien dikatakan tidak dehidrasi jika hasil hitungan cairan yang keluar (output) tidak lebih dari cairan yang masuk (intake). 

Definisi Keseimbangan Cairan 

Air menjadi nutrisi yang sangat penting untuk kebutuhan aktivitas sehari-hari. Keseimbangan cairan atau dalam istilah dikenal dengan balance cairan memiliki definisi yaitu hasil perhitungan antara jumlah intake dan output adalah sama atau tidak kurang dari 0 dalam waktu 24 jam (1 hari). Total cairan tubuh pada manusia normalnya adalah sekitar 45-75% dari total berat badan. Faktor yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan adalah intake diet, tingkat aktivitas fisik, usia dan kondisi lingkungan. 

Secara normal, air dapat masuk ke dalam tubuh melalui proses ingesti (mulut). Namun pada kondisi tertentu, seseorang tidak dapat mengkonsumsi air dengan normal sehingga dibantu dengan pemberian melalui parenteral atau cairan infus melalui intravena. Untuk mencegah risiko dehidrasi, tubuh akan melakukan serangkaian proses metabolisme dengan cara mengaktifkan beberapa sensor pendeteksi dehidrasi berupa osmoroseptor di pembuluh darah dan atrium jantung. Sensasi haus mulai dirasakan ketika tubuh mulai kehilangan sekitar 1-2% cairan. Hal tersebut dapat menyebabkan osmolalitas darah berada di atas nilai normal : 280 - 290 mOsm/Kg sehingga darah akan menjadi lebih kental. Meningkatnya kekentalan darah ini yang kemudian menstimulus tubuh untuk minum. Sementara untuk mencegah overhidrasi, tubuh menyesuaikan diri dengan melibatkan ginjal untuk membuang kelebihan air dalam tubuh ketika air dikonsumsi. Dalam hal ini hormon vasopressin akan dihambat sekresinya sehingga retensi cairan akan dikurangi. 

Rumus Keseimbangan Cairan 

Untuk dapat mengetahui keseimbangan cairan pasien, maka rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut : 
                 
KC = Intake - (Output + (IWL))

Keterangan : 
KC = Keseimbangan Cairan 
Intake = Semua cairan yang masuk 
Output = Semua cairan yang keluar 
IWL = Insisible Water Lose (pengeluaran cairan yang tak terukur, contoh : keringat) 
 
Untuk cairan keluar ada jenis cairan yang tidak bisa kita ukur secara kasat mata atau menggunakan alat ukur khusus. Maka perlu dihitung total IWL dengan menggunakan rumus berikut : 

IWL = (15 x Berat Badan) dalam 24 jam

Contoh Kasus : 

Tn. T berusia 60 tahun menjalani perawatan di ruang rawat inap karena kondisi leukositosis dari luka gangren yang diderita. Berat badan Tn. T adalah 80 Kg, tinggi : 170 cm. Pasien memiliki riwayat diabetes sudah sejak 5 tahun. Saat dilakukan pemeriksaan diperoleh data : 

TTV : 
TD : 145 / 90 mmHg 
RR : 20 x / menit 
N : 90 x / menit 
T : 38,50 C

Lab : 
Leukosit : 15 x 103 ยต/L
Hb : 7 g/dL 

Pasien dipasang selang kateter dan pada urine bag yang tertampung adalah 1000 mL. Pasien belum ada BAB. 
Pasien mendapat terapi infus RL 2500 ml / 24 jam
Untuk memperbaiki masalah Hb, pasien mendapat transfusi package red cell (PRC) : 250 ml. 
Untuk terapi antibiotik, pasien mendapatkan injeksi Ceftriaxone yang dilarutkan dalam aquades steril : 10 cc tiap 12 jam dan infus metrodinazole 500 mg cair 100 ml tiap 8 jam. 

Berapakah nilai keseimbangan cairan Tn. T ? 

Langkah menghitung : 
  1. Hitung cairan masuk : 
    Transfusi               = 250 ml 
    Infus total 24 jam  = 2500 ml 
    Inj. Ceftriaxone 10 cc tiap 12 jam (2 x sehari) = 2 x 10 ml = 20 ml 
    Infus metro 500 mg tiap 8 jam (3 x sehari) = 3 x 100 ml = 300 ml
    Total cairan masuk : 3.070 ml 
  2. Hitung cairan keluar : 
    Urine = 1.000 mL 
    Total cairan keluar : 1.000 ml 
  3. Hitung nilai IWL : 
    15 x 80 = 1.200 
    Total IWL : 1.200 
Dengan demikian nilai keseimbangan cairan adalah : 
3.070 - (1.000+1.200) = 870 ml / 24 jam

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai keseimbangan cairan adalah 870 ml. Maka dapat disimpulkan bahwa pasien tidak mengalami dehidrasi, namun menderita overhidrasi karena normalnya nilai input harus sama dengan output ( KC = 0) agar tidak terjadi retensi cairan. 

Jenis Cairan Parenteral (Infus) 

Cairan parenteral atau infus digunakan ketika pasien tidak dapat menerima asupan cairan melalui oral dan membutuhkan rehidrasi yang cepat. Terdapat 4 jenis cairan infus yang banyak digunakan : 
  1. NaCl 0,9% : NaCl dalam bahasa Inggris disebut dengan sodium chloride. Kandungan elektrolit yang terdapat pada infus NaCl adalah elektrolit Natrium dan Clorine. Pemberiannya melalui intravena. Infus ini digunakan untuk mantainance cairan ekstraseluler seperti : dehidrasi, hipovolomeia, perdarahan dan sepsis. Selain itu, larutan NaCl 0,9% juga dapat digunakan untuk irigasi luka pada perawatan luka akut atau kronis. 
    Infus NaCl 0,9% | e-katalog.go.id


  2. NaCl 0,45% : Larutan ini dapat digunakan pada pasien dengan kondisi hipernatremia dan diabetes ketoasidosis. Cairan ini kontraindikasi pada pasien dengan luka bakar, trauma dan penyakit liver. 
    Infus NaCl 0,45%

  3. Ringer laktat (RL) : Cairan ini mengandung NaCl, Kalium klorida dan Kalsium klorida. Cairan ini digunakan untuk maintenance cairan pasien dengan kondisi hipovolemia, kehilangan darah akut, ketidakseimbangan elektrolit dan asidosis metabolik. Lauratn ini kontraindikasi pada pasien dengan kadar Ph darah > 7.5 dan pasien dengan gangguan liver dan gagal ginjal.
    Ringer laktat | Halodoc.com

  4. Dextrose 5% (D5) : Larutan ini diberikan pada pasien dengan kondisi hipernatremia. Selain itu, D5 juga dapat digunakan untuk mengencerkan osmolalitas cairan ekstraseluler. Pada pasien dengan syok hipoglikemia (GDS < 60 mg/dL) , D5 dapat digunakan sebagai terapi pemulihan gadar glukosa darah. 
    Infus Dextrose 5% | Tokopedia.com

  5. Cairan koloid : Larutan ini jarang digunakan, tetapi penting. Cairan koloid sering dikenal sebagai ekspander volume atau plasma karena dapat menarik cairan interstitial kembali ke pembuluh darah. Cairan koloid digunakan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi cairan besar serta kekurangan gizi. Contoh pada pasien pankreatitis, peritonitis dan hipoalbuminemia. 
    Infus koloid | hdmall.id

Daftar Pustaka 

  1. Ballz, W.S.2021. Breaking Down IV Fluids: The 4 Most Common Types and Their Uses (Source: https://nurse.plus/become-a-nurse/4-most-commonly-used-iv-fluids/)
  2. Riebl SK, Davy BM. The Hydration Equation: Update on Water Balance and Cognitive Performance. ACSMs Health Fit J. 2013;17(6):21-28. doi:10.1249/FIT.0b013e3182a9570f

0 Comments